Media pembelajaran akan memberikan pengaruh terhadap peserta didik, yaitu peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang didapatkan, juga akan memiliki moral atau akhlak yang tinggi, sehingga besar kemungkinan dengan memperhatikan alat/media pembelajaran itu, tujuan pembelajaran akan tercapai secara efektif dan efisien.
Ada kata kunci baru yang muncul dari pengertian menurut Rustyah, yaitu media sebagai alat bantu proses penyampaian pesan. Alat bantu mempunyai pengertian yang lebih luas dari sekedar alat berbentuk fisik. Hal ini lebih dipertegas oleh Basyiruddin yang menyebutkan, ”Pengertian media secara lebih luas dapat diartikan manusia, benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa memungkinkan memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap”.
Setiap pembelajaran tentunya didukung oleh ketersediannya media pembelajaran yang memadai. Begitu juga halnya dengan pembelajaran akhlak di Dayah Modern Ummul Ayman dan Dayah Jami’ah Al-Aziziyah Samalanga Kabupaten Bireuen. Media pembelajaran yang tersedia di Dayah terbagi ke dalam dua bentuk media, yaitu media audio dan media nonaudio. Guru dayah tidak banyak menggunakan media audio, hal ini berdasarkan wawancara penulis dengan salah seorang guru Dayah, beliau menjelaskan bahwa“Pembelajaran di dayah hanya menggunakan media papan tulis, kitab, spidol dan alat tulis lainnya sebagai media pembelajaran bagi santri. Hal ini mengingat akan keterbatasannya perangkat media yang dimiliki oleh lembaga pendidikan dayah”.
Hasil observasi penulis, di lembaga pendidikan dayah sudah memiliki media audio yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Hal ini karena mengingat tradisi proses pembelajaran di dayah berlangsung secara tatap muka dengan duduk bersila, guru membaca kitab dengan melanjutkan materi yang telah dipelajari sebelumnya, sedangkan santri hanya mendengarkan dan mendiskusikan materi yang belum dipahaminya.
Disisi lain, berbeda dengan halnya pembinaan akhlak di Dayah Jamia’h Al-Aziziyah, penggunaan media audio rutin digunakan oleh guru dayah dengan memutarkan film-film yang mengisahkan keteladanan para sahabat-sahabat Rasul dan keberhasilan-keberhasilan ulama dahulu dalam menuntut ilmu, hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan akhlak bagi santri dayah.
Kemampuan guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah Samalanga dalam menggunakan media audio dilatarbelakangi oleh keilmuan teungku dayah yang sudah berada pada level strata dua (S2) dan bahkan ada yang sudah strata tiga (S3). Maka sangat banyak ideide pengembangan akhlak santri yang dilakukan oleh santri dayah.
Selain media audio tersebut, teungku-teungku dayah juga menjadikan sarana madding sebagai media pembelajaran. Menurut hasil wawancara dengan Teungku Saiful Bahri, beliau menyatakan bahwa “Madding menjadi salah satu media pembinaan akhlak santri, di madding kami menulis berbagai artikel yang bernuansa sufisme, menulis kisah-kisah keteladanan ulama-ulama terdahulu, sehingga santri yang membacanya terispirasi dengan tulisan tersebut. Selain tulisan, di madding juga memuat karikatur-karikatur islami yang bernilai etika dan estetika yang tinggi.
Media lain yang berhasil peneliti rangkumkan di dayah adalah adanya penulisan kata-kata bijak yang ditempelkan di sudut-sudut bangunan dayah. Hasil observasi di Dayah Ummul Ayman, bahwa tertulis di sudut asrama putra tentang adab murid kepada gurunya. yaitu : 1) tidak berjalan di depan guru; 2) tidak menduduki tempat yang di duduki seorang guru; 3) tidak mendahului bicara di hadapan guru kecuali dengan izinnya; 4) tidak bertanya dengan pertanyaan yang membosankan guru; 5) tidak mengganggu istirahat guru; dan 6) tidak menyakiti hati guru.
Berbeda lagi dengan di Dayah Jamiah Al-Aziziyyah, guru dayah lebih menekankan prilaku santri kearah yang lebih terpuji, dengan menjauhi 7 dosa besar santri, berupa: 1) tidak boleh mencuri; 2) tidak boleh menggauli teman; 3) tidak boleh keluar komplek dayah; 4) tidak boleh memasak di luar dayah; 5) tidak boleh melawan guru; 6) tidak boleh merokok; dan 7) tidak boleh merusak fasilitas sekolah/dayah.
Larangan tersebut di atas ditempelkan di sudut-sudut dayah, sehingga santri terbiasa melihat aturan tersebut. Langkah ini sangat efektif dalam melatih kebiasaan santri untuk memperbaiki akhlaknya masing-masing.Selain memanfaatkan sarana madding sebagai media pembelajaran akhlak, di Dayah Jamiah AlAziziyah memanfaat soudsystem yang dipasang di setiap asrama santri, yang berguna untuk memberi informasi terbaru bagi setiap santri. Hal ini berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Teungku Riandi, beliau menjelaskan, bahwa;
“Pada sudut-sudut asrama santri telah kita pasang sound system yang berguna untuk media informasi seputaran aturan dayah, selain itu juga pada soundsystem tersebut kami putarkan tausiah-tausiah penyejuk hati, cara-cara membersihkan hati dari penyakit hati, ini sangat berguna bagi santri yang lagi menuntut ilmu, karena bila hati seseorang hitam, maka ilmu agama akan susah masuk ke dalam hati manusia”.
Hasil observasi peneliti, sangat banyak kelebihan lain dari pemasangan soundsystem di asrama santri, antara lain adanya informasi yang disampaikan oleh piket harian di posko utama secara langsung diterima oleh santri bila ada wali santri yang berkunjung ke smp an nur, ditambah beberapa kemajuan seperti adanya Chromebook untuk memudahkan siswa dalam mengerjakan tugas dan fasilitas lainnya.

















