Kamis, Oktober 15, 2026
BerandaArtikel Umum"Santri Kerudung Taplak"

“Santri Kerudung Taplak”

Kepalaku terasa penat setelah melaksanakan tugas ‘suci’, mengajar. Entah kenapa hari ini terasa sangat melelahkan. Tapi itulah bekerja. Lebih baik capek, lelah bekerja dari pada capek nyari kerja, bukan?

Mataku menatap ke atas langit-langit ruangan bercatkan warna abu-abu, menyiratkan kesan mewah. Menghela nafas dalam-dalam mencoba mengeluarkan semua beban yang tersisa di dada. Aku sendirian di sini membuatku semakin terhunjam ke dalam alibi-alibi _ yang menurutku malah semakin melarikan diriku dari kenyataan yang ada. Membingungkan.

Lamunanku terkoyak karena gesekan sandal dari luar. Aku menoleh ke arah luar kantor. Kudapati tiga orang sedang berjalan ke arahku sambil sesekali tertawa di sela-sela obrolan mereka.

“Dewean, Yi,” kata Mr. Syarif sembari meraih tanganku, berjabat tangan.

“Nggeh ngeten niki, yi,” jawabku tersenyum. “Lagi banyak pikiran, Pak,” lanjutku.

Mereka bertiga adalah teman kerja. Pertama namanya Syarif Maulana Wibowo Nyonggo Boto Tibo Sedhoyo. Namanya memang panjang gitu. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Mr. Syarif karena dia pandai bahasa Inggris. Mr. Syarif memiliki perawakan yang tinggi dan gagah layaknya titan raksana _ menurut santri-santri putra.

Kedua ada kang Kamidi. Dia adalah orang terkaya di Indonesia. Ketika jalan-jalan dimanapun dan kemanapun, coba tengoklah ke pinggir jalan, ada papan iklan penjualan, entah itu tanah, mobil, atau kos-kosan, pasti ada tulisan “Silahkan hubungi Kamidi nomor ini….” makanya, kalau lagi tanggal tua kayak sekarang ini, aku adalah orang pertama yang minjem uangnya.

Dan terakhir, kang Getfun. Yes, Surely the first time you read this name you will think that he is English because his name sounds like English. Perlu di artikan tidak? Tidak usah ya. Capek nulisnya. Intinya namanya seperti inggris padahal dia itu JaTul alias Jawa tulen ples medhoknya kebangetan.

Kami berbicara tentang berbagai hal, dari kegiatan sekolah hingga kehidupan pribadi. Lebih-lebih mengobrol untuk kemajuan Pondok Pesantren, SMP, MA, dan Madin An Nur.

“Silahkan kopinya diminum dulu,” ucap kang Getfun sambil menyodorkan nampan berisi tiga gelas kopi yang masih mengepulkan asap.

“Sek to, Yi. Diminum ijeh panas ngene iki yo mlocot,” jawabku sambil tertawa. Mereka ikut tertawa mendengar cletukanku.

Mataku kembali menoleh keluar kantor. Mataku menyipit karena sinar matahari yang semakin terang. Aku melihat ada beberapa orang jualan naik sepeda motor dengan grobak di belakang sedang berdiri berjajar di depan gerbang masuk Pondok An Nur.

Ready 😍 Taplak meja tamu bulat... - Rumah Kerudung Bimaroshop | Facebook

Tiba-tiba, ada suara keras yang mengganggu suasana santai itu. Suara itu berasal dari seorang santri putri bernama Yuni yang berkata kasar di depan gerbang. Suara kerasnya sampai terdengar oleh kami di dalam ruangan. Padahal kantor berada agak jauh dari gerbang dan kontruksi bangunannya tinggi. Jadi suara di luar sana tidak akan terdengar sampai ke dalam. Tapi tidak dengan suara Yuni. Kalau tidak saking kerasnya tidak mungkin bisa kami dengar dari sini.

Guru-guru segera memperhatikan Yuni dan melihat keadaannya yang marah. Mr. Syarif kemudian memanggil Yuni, “Yun! Sini, Ndok!”

Yuni berjalan ke arah kami. Badannya agak menunduk. Raut mukanya seketika berubah. Dia ketakutan. Tapi itulah resikonya.

“Yuni, mengapa kamu berbicara dengan cara seperti itu?! Ini bukanlah cara yang sopan dan baik bagi seorang santri!,” Kang Kamidi menasehati Yuni dengan nada yang agak tinggi.

“Yuni…” kupanggil namanya dengan nada yang lembut. Karena menurutku kalau kita bertiga keras semua, pasti Yuni akan lebih merasa tertekan. Aku mencoba memberinya pengertian bahwa yang dilakukannya itu tidak pantas. Mosok, santri berbicaranya tidak ada bedanya dengan anak-anak yang tidak mondok.

Yuni terdiam menunduk. dia merasa malu dan menangis. Air matanya menetes jatuh di lengannya.

“Yuni, kamu harus memakai kerudung taplak meja selama 2 minggu. Ini bukanlah hukuman yang keras, tapi hanya untuk membantu kamu memahami pentingnya sopan santun dalam berbicara,” kata Mr. Syarif.

Mendengar itu, Yuni langsung sesenggukan sejadinya. Tangisnya sudah tidak tertahan. Pecah, duaarrrrrrr!!!! hancur sudah harga dirinya. Parasnya cantik tapi kalau pakai krudung taplak meja akan jadi seperti apa nanti, pikirnya.

“Pak, jangan pakai krudung taplak to….” ucap Yuni sesenggukan.

“Kamu harus tanggungjawab dengan apa yang kamu katakan, dengan apa yang kamu perbuat,” kata Kang Getfun.

Yuni terpaksa menganggukkan kepala tanda dia siap bertanggungjawab atas ucapannya yang kasar tadi.

Yuni pamit kembali ke pondok. Dia merangkak mundur keluar dari ruangan kami. Aku hanya memandanginya, diam.

Meskipun Yuni marah, jengkel dengan keputusan kami, tapi dia masih bisa mengontrol emosinya. Dia masih menyadari bahwa dia adalah santri yang salah satu kewajibannya adalah menghormati guru. Toh, hukuman memakai kerudung taplak juga untuk kebaikan dia. Kami tidak ingin Yuni dan santri-santri yang lain menjadi pribadi yang tidak berakhlak, pribadi yang tidak bertanggungjawab. Kami tidak mau! Karena kami sayang dan peduli terhadap generasi muda saat ini yang kelak akan melanjutkan estafet roda kehidupan.

Setelah kejadian itu, saya amati Yuni sudah berubah menjadi santri wati yang bertutur kata baik sopan. Hukuman itu bukan karena benci tapi bentuk peduli seorang pendidik kepada santrinya. Yuni sendiri juga merasa berterima kasih kepada guru-gurunya karena telah memberinya pelajaran yang berharga.

Cerita santri taplaknya udah dulu, ya. Capek nulis terus. Tapi ada info penting, kabarnya Yuni udah reuni dengan alumni santri taplak. Mereka saling memberi tpis-tips jitu pakai krudung taplak agar semakin menawan. Wkwkwk…

sudah ya. Mau ngajar dulu. Tapi mohon maaf lho, kalau bahasanya kurang tertata dengan baik. Belum sempat ngedit. Cerita ini jadi langsung saya upload. Jadi mohon maklum, yaaaaa.

Muhammad Nur Hamidhttp://an-nur.id
I am a lover of words, the world, and colors. Besides writing, I find peace in reading and joy in painting. Join me on my journey through pages of words and a palette of colors. "Perhaps the most beautiful thing is when someone finds peace within themselves."
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

error: Content is protected !!