Membahas masalah santri dan kemerdekaan, bagaikan membahas air dan sungai, dua-duanya tidak bisa dipisahkan. Santri bagaikan sungai dari air yang mengalir untuk merdeka menuju samudra.
Membaca tentang kemerdekaan, bukan sebuah kata yang hanya disematkan pada 17 Agustus 1945, karena merdeka memiliki 4 waktu perjuangan, yakni perjuangan untuk merdeka, perjuangan ketika proklamasi kemerdekaan, Â perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan perjuangan mengisi kemerdekaan. Keempat perjuangan tersebut tidak bisa dipisahkan dari para pejuang di Indonesia termasuk para kiai dan santri.
Pada hakikatnya santri merupakan ruh negara Indonesia itu sendiri. Dan pada aktivitasnya santri merupakan sekelompok orang yang menuntut ilmu agama kepada seorang kiai, baik dengan cara mondok (mukim), atau nonmukim (kalong). Jika dapat dihitung dan didata secara rinci, mungkin sudah berjuta-juta para santri dan kiai berjuang bagi bangsa Indonesia, karena sebelum kemerdekaan kita bisa mengingat sejarah perlawanan para santri dan kiai.
Perjuangan santri tidak berhenti sejak selesainya penjajahan di tanah air. Akan tetapi perjuangan santri selanjutnya, yakni tetap mengisi kemerdekaan dengan mengaji dan mengkaji ilmu agama di pesantren dan ilmu lainnya.
Santri juga ikut mengisi panggung politik, menyemarakkan dunia bisnis, ekonomi, literasi, digital dan militer. Sehingga peran santri tidak akan pernah padam, dan akan selalu mengalir di setiap perubahan zaman di Indonesia.
sumber: lampung.nu.or.id

















