
Orang yang beriman secara benar terlihat dari khusyuknya. Ali bin Hasan jika berwudhu’, wajahnya memucat. Ketika ditanya, “Apa yang membuatmu seperti itu?” Ia menjawab, “Tahukah engkau siapa di hadapanku yang aku hendak berdiri menemuinya?”
Para sahabat mencintai shalat, sehingga hati mereka hidup dan tenteram. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Ketenteraman dalam hatiku dijadikan ada pada pelaksanaan shalat.” (HR Ahmad).
Shalat menghidupkan hati dan khusyuk adalah penghidup shalat. Nilai2 yang menghidupkan shalat:
Pertama, hadirnya hati; hati kosong dari selain shalat.
Kedua, memahami makna bacaan dalam hati.
Ketiga, ta’zhim dan takut kepada الله, karena mengenal keagungan dan keluhuran الله serta mengetahui kehinaan di hadapanNya.

Tingkatan khusyuk:
Pertama, tunduk dan patuh terhadap perintah الله.
Kedua, introspeksi terhadap perbuatan yang membinasakan: sombong, berbangga diri, riya’ dan khianat.
Ketiga, menjaga diri dari sikap bebas berbuat atau dari persangkaan mempunyai hak atas الله.
Khusyuk dalam arti ta’zhim, cinta dan pasrah hati seorang hamba kepada Tuhan adalah setiap saat.
Umar bin Khathab melihat laki-laki menundukkan kepala dalam shalat. Beliau pun berkata, “Wahai saudaraku, khusyuk itu bukan menundukkan kepala, tetapi ada dalam hati.”





















