Sahabatku,
HINGGA kini masih ada diantara kita yang beranggapan kalau proses memilih pemimpin hanya urusan dunia dan tak ada sangkut pautnya dengan urusan akherat. Padahal, memilih seorang pemimpin tak hanya urusan dunia, tetapi juga urusan akherat. 
Cara memilih pemimpin dalam Islam kini menjadi kata kunci yang paling banyak dicari dan dianggap menjadi issue yang cukup kontroversial. Terlebih lagi dengan dengan momentum pemilu.
Konsep islam tentang kepemimpinan sebenarnya sudah ideal. Contoh paling ideal pemimpin islam tentu saja Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. (QS Al-Ahzab:21).
Syarat pertama atau utamanya si calon pemimpin yang akan kita pilih itu seorang muslim yang beriman kepada الله. Maksudnya, seorang calon pemimpin itu harus memiliki dua sifat, seperti disebutkan dalam Al Quran Surah Yusuf ayat 55, “hafizhun ‘alim. Hafizhun” artinya adalah seorang yang pandai menjaga. Yakni, seorang yang punya integritas, kepribadian yang kuat, amanah, jujur dan akhlaknya mulia, sehingga patut menjadi teladan bagi orang lain atau rakyat yang dipimpinnya sebagai dasar kepemimpinan dalam islam .
Kemudian calon pemimpn yang akan dipilih itu orangnya amanah. Maksudnya, seorang pemimpin yang amanah akan berusaha sekuat tenaga untuk menyejahterakan rakyatnya, walaupun sumber daya alamnya terbatas. Sebaliknya jika pemimpin yang dipilih khianat, maka pasti yang bersangkutan akan sibuk memperkaya diri sendiri dan dinasti keluarga serta kolega-koleganya, dan membiarkan rakyatnya tak berdaya,
Selanjutnya seorang pemimpin itu haruslah ‘alim. Maksudnya, seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang memadai untuk memimpin rakyatnya dan membawa mereka hidup lebih sejahtera.
Berikutnya seorang pemimpin tersebut haruslah seseorang yang rajin melaksanakan shalat lima waktu, sesibuk apapun perkerjaannya. Karena shalat bisa dikatakan barometer akhlak seseorang. Pemimpin yang baik dan layak dipilih adalah pemimpin yang menegakkan yang taat dalam melaksanaan shalat, karena shalat melahirkan tanggung jawab sebagai seorang hamba الله.

Yang tak kalah pentingnya, seorang pemimpin tersebut harus yang suka atau gemar berzakat atau bersedekah. Soalnya, zakat itu bukan hanya bertujuan membersihkan harta yang kotor, tetapi juga untuk memberikan hak orang lain.






















