Minggu, Oktober 25, 2026
BerandaArtikel UmumDari Bingung Jadi Paham

Dari Bingung Jadi Paham

Kenalin nih, nama aku Muhamad Hamid Robert Steveun Bangkit Wicaksono, tapi biasa dipanggil Hamid. Usiaku masih 13 tahun, baru aja jadi anak pondok pesantren An Nur, dan pastinya masih bawa-bawa rasa cemas campur harapan gede. aku nih, anak dari keluarga sederhana yang tinggal di kota, dan baru pertama kali nginjek tanah pondok. Soal penampilan, jangan tanya! Tinggi badanku udah kayak tiang listrik, kulit sedikit gelap, rambut pendek dan cenderung “nggak bisa diem” gitu. Kepribadianku di pondok? Canggung banget lah, kan baru pertama kali masuk, tapi semangatku buat belajar luar biasa! Cuma kadang, yaaaa gitu.. malesan.

Bikin Iri, Gadis Wonogiri Dinikahi Bule Ganteng Selandia Baru - Lifestyle  Fimela.com

Itu foto penampakanku, Muhamad Hamid Robert Steveun Bangkit Wicaksono.

Pesantren An Nur Ungaran itu seperti campuran antara sekolah yang keras dan kampung halaman yang penuh kedamaian. Di sini, disiplin ketatnya kayak jam weker yang nggak pernah izin libur, tapi suasananya tetap adem, sejuk, dan penuh kehangatan. Bangunannya sih sederhana, tapi kokoh kayak semangat santri yang nggak pernah goyah. Setiap hari, rutinitas di sini bagaikan playlist harian yang nggak pernah ganti, tapi tetap bikin nyaman—mulai dari ngaji, shalat berjamaah, sampai canda tawa yang bikin hati mak-nyessss ngono lho, adem. Kalau kamu merasa capek dengan dunia luar, datang ke sini dan rasakan hidup yang serba teratur tapi tetap penuh warna!

Kesan pertama akoh di pesantren ibarat masuk ke dunia yang penuh misteri, seperti tiba-tiba terjebak di film jadul tanpa sinyal dan WiFi. kakiku melangkah masuk melewati gerbang pondok, suasananya tenang banget, seperti di tengah hutan, tapi tanpa ada suara burung berkicau, hanya ada suara dzikir dan langkah kaki santri yang serius.

Salat berjamaah? Duh, aku yang biasa salat sendirian di rumah ini merasa kayak pemain cadangan di tim sepak bola besar, tiba-tiba disuruh jadi pemain inti!

Belajar kitab kuning yang tebal itu pun rasanya kayak disuruh baca buku sejarah yang sudah berdebu, dan aturan pondok tu terkenal ketat.

Hamid sampai mikir, “Ini pesantren atau pusat pelatihan disiplin tentara sih?” Tapi, yah, siapa sangka, dari semua kebingungan yang aku rasakan, justru aku malah mulai ketagihan sama suasana yang makin lama makin “nyantol” di hati.

aku akhirnya ketemu teman pertama, namanya Azzam, sosok yang tampaknya selalu punya stok senyum lebar, seperti orang yang baru menang undian Agustusan. Dengan rambut sedikit berantakan, khas santri yang lebih sibuk baca kitab dari pada urus penampilan, Azzam ini bagaikan pemandu wisata pesantren yang siap menjelaskan setiap sudut dengan antusiasme berlebih. “Ini ruang makan, yang sana musala, yang itu kamar mandi—tapi jangan khawatir, airnya selalu ada!” ujarnya dengan nada semangat, seolah-olah aku baru saja tiba di taman wisata luar negeri.

Aku  yang masih bingung cuma bisa manggut-manggut, merasa seperti turis yang baru pertama kali ke tempat tanpa peta dan sinyal. Azzam, dengan gaya santai dan penuh percaya diri, jelas-jelas sudah menjadi “kapten” pesantren yang tahu segala hal, dari aturan tak tertulis hingga lokasi paling enak buat tidur siang.

aku cuma manggut-manggut aja dengerin ocehan Azzam ngejelasin pondok. ”oooohhh… yaaaaa… begituuuu??…. waaaaahhh.. joozz!!!” hanya kalimat itu yang bisa aku keluarkan dari tenggorokan. Hla, ndak tahu pondok itu bagaimana. Kan baru masuk, bro!

Kemudian, masalah utamaku mulai muncul ketika suara azan Subuh berkumandang. “Gila, ini subuh atau dini hari ya?” pikirku sambil memaksa mata terbuka, karena bangun jam 4 pagi itu seperti tantangan hidup paling ekstrem yang pernah aku hadapi. Aturan yang ketat bikin aku bingung, harus pakai sarung ke mana-mana, nggak boleh telat, nggak boleh ngobrol terlalu keras, jam sepuluh malam harus tidur. Rasanya kayak baru masuk ke dunia yang penuh dengan makhluk astral yang menyeramkan. Aturan pondok ketat euy! Atut ndak? Takut lah!

Namun, momen paling epic adalah saat aku nyadar, hidup tanpa gadget itu ternyata berat banget. Sambil menatap teman-temanku yang baca kitab kuning, aku kayak lagi berjuang hidup di zaman batu, “Gila, kalau ada TikTok sekarang, bisa jadi viral deh!”

Aku jadi rindu Wi-Fi, YouTube, dan scroll Instagram. “Ini pesanten atau kampungnya para ninja tanpa gadget ya?” pikirku.

Tapi, ya, lama-lama, tanpa sadar, aku mulai menyesuaikan diri—walaupun kadang masih suka kangen nge-cek HP yang udah jadi patung di meja ruang tamu rumah bapakku temannya bapaknya temenku. Bingug ya? Sama! Pokoke baca aja cerpen ini. Harus tuntas sampai akhir. Kalau ndak sampe akhir, aku pulang nih! Ndak jadi nulis nih!

Lanjut….

Rindu rumah mulai jadi teman sejatiku di pesantren. Setiap malam, aku terbaring di kasur yang terasa keras seperti papan, sambil memeluk bantal, dan mikirin ayah serta ibu yang mungkin lagi asik nonton TV di rumah.

“Enaknya, kalau di rumah bisa tidur dengan nyaman, sambil ngecek HP,” keluhku dalam hati. Tapi, di tengah kegelapan malam, tiba-tiba kata-kata ayahku terngiang: “Jangan cepat menyerah, Nak. Di pesantren itu ujian, bukan akhir cerita.” Aku merasa seolah ayah sedang jadi voice-over motivasi yang menguatkan, walaupun di sisi lain, aku lebih pengen telepon rumah dan minta dikirimkan paket makanan kesukaanku.

Lalu, saat mulai belajar kitab kuning, aku merasa seperti baru saja terjebak dalam dunia asing yang penuh dengan istilah yang terasa seperti bahasa alien. Setiap kali membuka kitab, rasanya kayak membaca kamus tanpa penerjemah.

“Al-Qur’an itu kaya aplikasi, ya? Begitu banyak fitur yang harus dipelajari!” keluhku.

Tapi, semua itu terasa makin berat saat tugas pertamaku datang. Tahu ndak apa? Ngafalin, bro!

Ustaz memerintahkan para santri untuk menghafal doa-doa dan belajar tajwid yang benar. Aku merasa seperti ikut lomba hafalan dengan hadiah yang entah ada di mana. Sementara teman-temanku sudah seperti juara bertahan, aku malah merasa seperti pesertanya.

Tapi tenaaaang, ada Azzam yang selalu menyemangati, “Tenang, Hamid, kita sama-sama belajar. Nggak ada yang instan di pesantren.” Dengan dorongan itu, meski susah, aku mulai mencoba bertahan, meskipun kadang aku masih mikir, “Kapan ya bisa santai kayak di rumah?”

Beberapa minggu berlalu, dan aku mulai merasakan perubahan yang cukup luar biasa dalam diriku. Awalnya, bangun Subuh itu seperti misi yang mustahil, tapi kini aku merasa lebih dekat dengan Allah, Tuhan Yang MahaEsa. Bahkan, kadang aku merasa seperti punya “personal assistant” yang selalu mengingatkan untuk berdoa dan salat. “Ternyata pesantren itu kaya upgrade hidup ya,” pikirku sambil menepuk dada, bangga dengan perubahan kecil yang aku alami. Meskipun masih sesekali kangen rumah, aku mulai bisa menghafal doa-doa dan surah Al-Qur’an tanpa merasa seperti ikut ujian tengah semester.

Rutinitas pesantren yang dulu terasa seperti jadwal ketat di kamp latihan militer, sekarang mulai terasa biasa. Belajar bersama teman-teman jadi lebih asyik, dan obrolan waktu luang pun seru. Ada-ada aja cerita lucu dari teman-teman yang bikin aku pengen ngakak sampai sakit perut, apalagi kalau Azzam mulai cerita soal pengalaman-pengalaman lucu di pesantren. Tapi, aku juga belajar banyak dari Azzam. Azzam yang selalu sabar, selalu penuh semangat, dan selalu punya cerita tentang para ulama besar yang belajar dengan penuh perjuangan. “Gila, mereka aja bisa, masa kita nggak bisa?” pikirku. Itu jadi semangat baru buat terus berusaha, walaupun kadang masih mikir, “Pesantren itu kadang kayak maraton, tapi kalau bisa lari, nanti di akhir ada hadiahnya!”

Saat ujian pertama datang, aku merasa seperti mengikuti audisi film thriller—tegang, deg-degan, dan sedikit takut gagal. Ujian hafalan doa dan surah itu seperti ujian hidup yang paling berat, dan aku merasa otakku penuh dengan kata-kata Arab yang seperti tumpukan puzzle yang belum dirangkai. “Gimana ya, kalau gagal… bisa diminta pindah ke pesantren lain nggak?” pikirku sambil menatap kitab kuning seperti itu adalah alat yang bisa menyelamatkan dunia. Tapi, aku harus tetap berusaha semaksimal mungkin, sambil berdoa dalam hati, “Semoga Allah kasih ingatan yang luar biasa, biar nggak malu di depan teman-teman.”

Setelah ujian, ketika hasil diumumkan, aku hampir salto, melompat kegirangan saat tahu aku mendapatkan nilai terbaik. “Wah, ternyata aku bisa juga ya!” seruku dalam hati. Rasanya seperti baru memenangkan medali emas, walaupun sebenarnya itu cuma nilai ujian hafalan. Tapi yang terpenting, perjuangan selama ini mulai terasa ada hasilnya. aku pun merasa bangga, tidak hanya karena nilai, tapi karena aku berhasil melewati tantangan pertama pesantren dengan penuh usaha.

Momen itu jadi titik balik dalam diriku—merasa lebih percaya diri, dan tiba-tiba pesantren yang dulu terasa seperti arena laga, sekarang mulai terasa seperti tempat yang penuh kedamaian. “Hmm, ternyata pesantren itu seru juga, ya? Ada perjuangan, ada hasil, dan yang pasti—ada rasa puas di dalam hati!” ujarku sembari menatap langit malam yang penuh bintang, merasa seolah-olah dia baru saja lulus dari sekolah kehidupan.

Akhirnya, saat semua orang terlelap dalam dekapan kegelapan di penjara suci ini, aku merenung, “Ternyata hidup di pesantren itu nggak gampang, ya!” Tiba-tiba aku teringat semua momen berat—dari bangun Subuh dengan mata setengah tertutup, hingga belajar kitab kuning yang rasanya lebih susah dari pada belajar main game level tinggi.

Namun, aku juga menyadari bahwa pesantren memberi banyak pelajaran yang nggak bisa ditemukan di tempat lain: ketekunan, pentingnya ibadah, dan bagaimana menjalin persahabatan yang tulus. “Dulu aku pikir, pesantren itu cuma tempat tidur yang keras dan aturan ketat. Sekarang, aku sadar, ini tempat sekolah kehidupan!” pikirku tersenyum, bangga bisa jadi bagian dari komunitas yang penuh semangat itu.

@@@

BTW, ini bocoran ya. Jangan bilang ke ustazh. Nanti aku kena takzir. Jadi, ceritanya begini, pagi-pagi, aku kan berangkat sekolah nih. Kaki masuk ke dalam kelas. Ruangan kelas IX. Hawanya masih terasa hangat karena pintu belum di buka. Aroma khas ruangan kelasku menyeruak masuk ke dalam hidungku.

Aku berjalan ke arah mejaku. Setibanya aku di meja, aku menemukan secarik kertas sudah terlipat dengan indah. Aku masih ingat surat itu berbentuk hati.

”Apa ini, ya?” tanganku mulai mengambil kertas itu.

Aku buka surat itu. Tertulis di sana ”Saking penggemar rahasia, kagem kang Hamid.”

Keningku mengernyit. Mencoba menyadarkan pikiran, ”Hah? Aku punya penggemar rahasia? Siapa ya? Ndak mungkin kayaknya. Hamid ndak ada gantengnya. Pinter juga ndak. Kaya dengan aset gunung dimana-mana juga tidak. Ini cewek mikir apa bisa ngefans sama aku?”

Aku baca surat itu dengan teliti dan penuh penghayatan. Kira-kira kalian mau tahu isi suratnya ndak? Mauuuu? Haaah? Apaaa? Jangan ya.. biar itu jadi kenanganku, dan untukku sendiri. Jangan sampai orang lain tahu.

Utututuuu.. kasihan. Ya udah, aku kasih bocoran pembukaannya aja ya…

”Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bagaimana kabarnya, Kang? Maaf, saya menulis surat ini untuk Panjenengan. Semoga setelah ini kita bisa kenal dan menjalin sillaturrahmi.

Aku ada puisi, tapi mohon maaf kalau tidak sebagus dan sepuitis njenengan. BTW, njenengan terkenal banget di santri putri. Pinter ngaji, baca kitab kuning joz, vocal rebana pondok, peringkat pertama terus, dan ketua pondok. Hehe..

Jangan diketawain yaaaa..

 

Di antara lempengan waktu yang bisu,

Di kedalaman hening yang terlukis di langit kelabu,

Terselip harapan yang membara, terpatri di dada,

Di dalam rahasia-Nya, aku menunggu tanpa suara.

Di sepanjang lorong senyap yang mengalir di aliran sungai,

Terlindung cahaya yang tersembunyi di balik bayang,

Kuharap, di sana, langkah kita tak terpisah,

Dalam doa yang senantiasa mendaki ke langit-Nya yang luhur.

Hingga nanti, pada akhirnya, aku atau tulisan ini yang menjadi mayat-mayat membisu di dalam peti ilahi. Terjerembab ke dalam zhauq

Dan aku benar-benar mati.”

Udah ya, itu saja. Nanti kalau tak ceritakan isinya, aku yang capek ngetik. lagian ini kan cerpen. harus singkat. kalau panjang itu namanya novel.

Cerita pun ditutup. Aku yang kini bukan lagi anak pondok yang canggung dan takut, melainkan seorang santri yang lebih matang, lebih percaya diri, dan siap menghadapi segala tantangan. “Ya, udah deh. Pesantren itu nggak cuma bikin aku jadi lebih pinter, tapi juga lebih sabar… dan lebih kuat. Siap ngadepin ujian hidup berikutnya!”

Aku pun melangkah dengan semangat baru, siap untuk belajar dan tumbuh lebih baik lagi—dengan hati yang semakin tulus.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

error: Content is protected !!