*Hilangnya Amanah dan Munculnya Ruwaibidhah*

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

1- Peringatan akan zaman fitnah dan kebalikan nilai Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mengabarkan tanda zaman di mana nilai-nilai kebenaran menjadi terbalik:
Pendusta dianggap benar
Orang jujur justru dituduh berdusta
Pengkhianat dipercaya
Orang amanah dicurigai
Ini menunjukkan rusaknya standar kebenaran di tengah masyarakat.
Hilangnya kepercayaan terhadap orang yang amanah Amanah yang seharusnya menjadi ukuran utama justru tidak lagi dihargai. Ini pertanda lemahnya iman dan akhlak sosial.
2- Muncul dan berperannya Ruwaibidhah Ruwaibidhah adalah orang yang bodoh, remeh ilmunya, dangkal pemahamannya, namun berani dan diberi ruang untuk berbicara serta mengatur urusan besar umat.
3- Bahaya berbicara tanpa ilmu. Hadits ini menegaskan larangan keras bagi orang yang tidak berilmu untuk berbicara tentang perkara umum, agama, politik umat, dan kemaslahatan masyarakat.
4- Urgensi menempatkan orang sesuai kapasitasnya Salah satu sebab kerusakan masyarakat adalah ketika urusan besar diserahkan kepada orang yang tidak ahli.
5- Tanda lemahnya adab dan hikmah Ruwaibidhah tidak hanya bodoh, tetapi juga kurang adab, namun tetap berani berfatwa dan beropini.
6- Peringatan agar umat selektif dalam mengambil informasi Umat Islam dituntut berhati-hati dalam menerima ucapan, berita, dan pendapat, serta menimbangnya dengan ilmu dan dalil.
7- Keutamaan ilmu dan ulama Hadits ini secara tidak langsung menegaskan bahwa yang berhak berbicara dalam urusan umat adalah orang berilmu, amanah, dan bertakwa.
8- Tanggung jawab individu untuk menjaga diri Seorang Muslim hendaknya: d
-Tidak ikut berbicara dalam perkara yang bukan keahliannya
-Menjaga lisan
-Merujuk kepada ulama dalam perkara agama dan kemaslahatan umum
9- Hadits ini adalah peringatan sekaligus nasihat Agar umat Islam tidak terjebak dalam fitnah akhir zaman dan tetap berpegang teguh pada kebenaran, ilmu, dan amanah.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur’an:

1- Terbaliknya kebenaran dan tersebarnya kebohongan. pendusta dibenarkan dan orang jujur didustakan—ini adalah bentuk mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”
(QS. Al-Baqarah: 42)

2- Hilangnya amanah dan rusaknya kepercayaan. Pengkhianat dipercaya dan orang amanah justru dituduh, ini bertentangan dengan perintah Allah untuk menjaga amanah.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa’: 58)

3-Larangan berbicara dan memutuskan perkara tanpa ilmu.
Ruwaibidhah adalah orang bodoh yang berbicara dalam urusan umum tanpa ilmu.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isra’: 36)

4- Bahaya mengikuti orang bodoh dan tidak berilmu. Bahwa orang bodoh tidak layak berbicara dalam urusan besar umat.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)

5- Keutamaan berkata benar dan jujur. Pada akhir zaman, orang jujur justru didustakan, padahal Allah memerintahkan untuk bersama mereka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. At-Taubah: 119)

6- Kerusakan akibat diserahkan urusan kepada yang tidak ahli.
Ruwaibidhah tidak mampu memberi petunjuk, namun justru diikuti dan didengar.

أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى

“Maka apakah orang yang memberi petunjuk kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali bila diberi petunjuk?”
(QS. Yunus: 35

7- Larangan mengikuti kebanyakan manusia tanpa ilmu. Ruwaibidhah sering diikuti karena popularitas, bukan karena kebenaran.

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)