AKSARA PENGUNGSIAN HATI
- Persimpangan Penjara Santri
Dengan mata ini, kutancapkan tonggak prasasti
Bukan batu dan besi, namun jejak di hati
Perjalanan panjang, liku dan berliku
Kini terpatri, dalam sanubari
Sementara tangan bergelayutan
mencoba bernegosiasi dengan pilu-pilu terbelenggu
langkah kaki mendaki reruntuhan tulang belulang di penjara antah berantah
menyibak luka nanah mengarah pada hati menggila
pertanyaanku; kapan kau berhenti di persimpangan jalan sana?
Bertemukah kau denganku di sisa-sisa sesenggukan tangismu?
Ah! Rupanya lisanku tak mampu membahasakan logikamu
Hanya sekedar merangkak merengek mengais bait-bait puisimu
Namun, tak pernah itu semua menjadi Foton-foton yang memaksa masuk ke dalam kamar
Terkecuali hanya seutas siluet bayangmu yang sekarang mulai tak jelas
Berhentilah…
Kemarilah…
Sisi lain diriku akan siap menanggung bebanmu
Pundakmu tidak akan lagi membungkuk seolah menyembah
pada alibi-alibi tragedi tragis menikam bengis
pada saksi-saksi palsu yang menguliti jiwamu sedikit demi sedikit
biarkan air mata yang jatuh itu
menggenang menjadi bengawan, mengubur semua penyiksaan
mengembalikan shuhuf kepada hunian para pengabdi Ilahi_santri
ya, tempat pengungsian yang semestinya kisah elegi dimulai dan berakhir
kemudian lihatlah pada aksara pegon dalam kitab usang sore kemarin
mulai menjerat niat
mulai menemani cekikik cekikik anak-anak kecil di balik rumput pelataran asrama
pagi ini…
anak-anak kecil itu meledek kekhusukanmu
karena doa yang belum sempat dirajut malah berubah menjadi kutukan sumpah serapah
yang kau hompimpa-kan selaksa itu adalah Firman Tuhan-mu!
Berhentilah, nak…
Sejenak saja…
Kemari, yuk!
Setelah kamu mulai sembuh dari pikiran sehatmu, silahkan lanjutkan kesibukanmu
Mengukir tapak-tapak kaki yang kamu sendiri tak mengenali
”Tsabbit qalby ’ala dinika”
Ya Allah, tetapkan hatiku pada agama-Mu!
Guyangan, Trangkil, Pati. Malam Selasa, 12 September 2011

















