Sahabatku
Pokok ajaran Islam yg utama adalah Tauhid dan ikhlas. Itulah dīnul qayyim, agama yg lurus yg mengantarkan ke surga.
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk الله Rabb semesta alam” (Q.S al-An’ām : 162)
Dari ayat tersebut الله khususkan dua ibadah (shalat dan berkurban) karena kemuliaan dan keutamaan keduanya dan penunjukkan keduanya terhadap kecintaan kepada الله. Keikhlasan agamanya hanya untuk الله dan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada الله dgn hati, lisan serta amalan dzahir dan berkorban dgn memberikan harta yang disenangi oleh jiwa kepada Dzat yang lebih dicintainya, yaitu الله.

Seorang yg paling ikhlas dalam shalat dan korban melazimkan keikhlasannya dalam seluruh amalanya. Dan apa saja yg datang dan pergi dari kehidupan ini dan kematian yg tlah ditakdirkan, seluruhnya hanya untuk الله.
Ikhlas merupakan amalan hati yg bersanding dgn amalan hati lainnya, yaitu jujur (sidq). Keikhlasan tidak akan ada kecuali dgn adanya kejujuran dan sebaliknya keikhlasan tidak akan bersanding dgn kedustaan baik secara bahasa, adat terlebih secara syariat.
Sebuah kalimat yg indah yang mengumpulkan dua lafadz tersebut (ikhlas dan jujur) adalah sabda Rasullullah صلى الله عليه وسلم: “Agama ini adalah nasehat (nabi mengulang sampai tiga kali).” (HR. Muslim).
Makna kata ”naṣiḥah” dalam hadits di atas, akan kita temukan terkumpul dalam makna naṣiḥah tersebut dua makna yaitu aṣ-ṣidq (jujur) dan al-ikhlāṣ. Sesuatu yg nāṣiḥ (murni) adalah yang khāliṣ (murni) tidak tercampuri oleh apapun.

Kemudian jika seseorang memberikan suatu nasehat yg bermanfaat kepada yg lain, hal ini dilakukan karena menginginkan kebaikan untuk saudaranya. Hal tersebut tidak akan timbul kecuali karena kejujuran seseorang itu ketika mencintai saudaranya, kejujuran nasehat yg disampaikannya serta keikhlasan yang bersumber dari hatinya.




















