

Penerapan game alih aksara Jawa untuk siswa kelas 9 di SMP An Nur Ungaran merupakan sebuah upaya inovatif untuk mengatasi kejenuhan siswa dalam belajar aksara Jawa. Selama ini banyak siswa menganggap materi alih aksara dari huruf Latin ke aksara Jawa sebagai materi yang sulit, terutama pada bagian aksara nglegena, sandhangan, dan pasangan. Pembelajaran yang hanya mengandalkan buku dan papan tulis membuat siswa cepat bosan dan kurang memahami aturannya. Oleh karena itu, guru mencoba menerapkan media baru berupa game edukasi yang diberi nama Sinau Nulis Jawa.
Game ini dirancang dengan konsep sederhana dan menyenangkan. Pemain diminta menerjemahkan kata-kata dalam bahasa Jawa sehari-hari dari tulisan Latin menjadi aksara Jawa. Permainan dibagi menjadi tiga level yang bertahap. Pada level pertama, siswa dilatih mengenal aksara nglegena dasar seperti kata bapa, ibu, dan mangan. Pada level kedua, siswa mulai dikenalkan dengan sandhangan untuk mengubah bunyi vokal seperti pada kata sate, soto, dan gule. Kemudian pada level ketiga, siswa dilatih menggunakan pasangan untuk kata-kata yang memiliki huruf mati beruntun seperti mangkat dan candra. Setiap jawaban benar akan mendapatkan poin dan musik gamelan sebagai hadiah, sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup.
Penerapan game ini di kelas 9 SMP An Nur Ungaran dilakukan dalam tiga pertemuan. Pada pertemuan pertama, guru memberikan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa, dilanjutkan dengan pengenalan cara bermain game. Pada pertemuan kedua, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan bermain game secara berkelompok melalui handphone atau laptop sekolah dengan sistem kompetisi. Kelompok yang mendapatkan poin tertinggi akan mendapat penghargaan. Pada pertemuan terakhir, guru memberikan post-test dan meminta siswa mengisi angket tanggapan mengenai game tersebut.
Hasil dari penerapan ini sangat positif. Nilai rata-rata siswa yang semula hanya 62,5 pada pre-test meningkat menjadi 84,3 setelah menggunakan game. Selain itu, sebagian besar siswa, yaitu sekitar 87,5 persen, mengaku lebih semangat dan merasa belajar aksara Jawa tidak lagi membosankan. Siswa yang tadinya pasif di kelas menjadi lebih aktif berdiskusi dengan teman kelompoknya untuk menyelesaikan tantangan dalam game. Hal ini membuktikan bahwa game edukasi bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga media pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan karakter siswa zaman sekarang.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan game alih aksara Jawa sangat cocok diterapkan di SMP An Nur Ungaran. Cara ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa cinta siswa terhadap budaya Jawa. Untuk kedepannya, game ini masih bisa dikembangkan lagi dengan menambahkan materi aksara murda dan kata-kata yang berkaitan dengan kearifan lokal Ungaran, agar pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan bagi generasi muda.


