Bertakbir Ketika Naik dan Bertasbih Ketika Turun.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ:
كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا.
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَقْمُ ٢٩٩٣.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhuma berkata:
“Dahulu, apabila kami naik ke
tempat yang tinggi, kami bertakbir; dan apabila kami turun, kami
bertasbih.”(Hr Bukhari no, 2993)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadis :

1- Anjuran memperbanyak zikir kepada Allah dalam perjalanan.
Seorang muslim hendaknya senantiasa mengingat Allah, baik ketika berjalan, bepergian, naik maupun turun. Zikir tidak terbatas pada waktu salat saja.
2- Disyariatkan bertakbir ketika naik ke tempat yang tinggi.
Ketika mendaki bukit, gunung, atau melewati jalan yang menanjak, kita dianjurkan mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah Mahabesar dan lebih agung daripada segala sesuatu.
3- Disyariatkan bertasbih ketika turun ke tempat yang rendah.
Ketika menuruni jalan, bukit, atau lembah, kita dianjurkan mengucapkan:
سُبْحَانَ اللَّهِ
Tasbih merupakan bentuk penyucian Allah dari segala kekurangan dan sifat yang tidak layak bagi-Nya.
4- Mengikuti sunnah Nabi shalallahu alaihi wa salam dan para sahabat.
Hadis ini berkaitan dengan zikir ketika melakukan perjalanan, terutama saat naik ke tempat tinggi dan turun ke tempat rendah.
5- Islam mengajarkan zikir sesuai dengan keadaan.
Dalam setiap keadaan, seorang muslim dapat mengingat Allah dengan zikir yang sesuai dengan tuntunan syariat. Hal ini
menumbuhkan kesadaran bahwa kita selalu membutuhkan Allah dalam setiap aktivitas.
Hadis ini mengajarkan kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dalam perkara zikir dan adab perjalanan, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat beliau.
6- Kesimpulan.
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang muslim dianjurkan membaca takbir ketika naik ke tempat tinggi dan membaca tasbih ketika turun ke tempat rendah. Dengan demikian, perjalanan bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga kesempatan untuk mengingat kebesaran dan kesucian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Catatan: Lafaz hadis yang Anda tulis, كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا, memang terdapat dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Ada pula riwayat lain dari Jābir yang menyebutkan secara eksplisit bahwa mereka melakukan hal tersebut ketika bepergian bersama Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Tema hadits yang berkaitan dengan Al Qur’an :

1- Ayat ini mengajarkan tasbih kepada Allah, sedangkan hadis menjelaskan praktik tasbih ketika turun dari tempat tinggi. Keduanya mengajarkan pentingnya menyucikan dan mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari.

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah pada waktu kamu berada pada petang hari dan pada waktu kamu berada pada pagi hari.”
Sumber: QS. Ar-Rūm [30]: 17.

2- Hubungannya dengan hadis: Ayat ini menegaskan bahwa Allah wajib diagungkan dengan sebenar-benarnya. Hadis tersebut memberikan contoh zikir berupa takbir ketika naik ke tempat tinggi.

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong karena kelemahan. Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.’”
Sumber: QS. Al-Isrā’ [17]: 111.