Kamis, Oktober 15, 2026
BerandaBerita“Tuhan” dalam Tanda Tanya: Obrolan Asyik di Beranda Pesantren AN NUR UNGARAN

“Tuhan” dalam Tanda Tanya: Obrolan Asyik di Beranda Pesantren AN NUR UNGARAN

Beberapa hari yang lalu, aku duduk santai di beranda asrama saat seorang santri An Nur Ungaran menghampiriku. Ia membawa sebuah pertanyaan yang cukup “berat” tapi disampaikan dengan wajah penuh antusias: “Pak Hamid yang ganteng, sebenarnya ‘ilahun’ dan ‘Allah’ itu sama nggak sih? Bukankah keduanya berarti Tuhan?”

Nah, obrolan pun dimulai.

Santri ini memaparkan pemikirannya dengan tenang, tapi tajam. Katanya, la ilaha illallah itu bukan sekadar kalimat hafalan, tapi kalimat yang menyimpan makna mendalam. Ia menjelaskan bahwa kata “ilahun” dalam kalimat tersebut merujuk pada “tuhan-tuhan” yang disembah selain Allah, dan menurutnya, kata itu secara arti mirip dengan “Allah”, hanya bentuknya yang berbeda.

Aku tersenyum. Santri ini tak sekadar menghafal, tapi merenungkan.

Aku pun menanggapi dengan pelan, “Iya, ilahun bisa berarti tuhan secara umum. Tapi Allah adalah nama khusus, satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Jadi meskipun secara arti ada kesamaan, secara makna dan kedudukan, jauh berbeda.”

Kata “ilāhun” (إِلَٰهٌ) dalam bahasa Arab berasal dari akar kata  (أ ل ه) yang berkaitan dengan konsep ketuhanan atau objek yang disembah. Secara etimologis dan makna dasarnya, kata ilāh berarti: “sesuatu yang disembah” atau “tuhan (dengan huruf kecil)”, dalam arti bisa merujuk kepada apa pun yang dianggap sebagai sesembahan oleh manusia.

Penjelasan Detail:

  • “Ilāh” bersifat umum dan bisa merujuk pada tuhan-tuhan palsu, berhala, kekuatan alam, ideologi, atau apa pun yang dijadikan sesembahan.
  • Kata ini digunakan dalam bentuk nakirah (umum) dan bisa jamak (pluralnya ālihah / آلهة), menandakan bahwa ada banyak ilāh dalam keyakinan-keyakinan manusia, walaupun Islam menolak semuanya kecuali Allah.

Contoh:

  • Dalam kalimat “lā ilāha illā Allāh”, artinya:

“Tidak ada ilah (sesembahan yang benar) selain Allah.”

Di sini, ilāh bukan berarti Allah, tapi berarti sesembahan secara umum. Lalu Allah disebutkan secara khusus sebagai satu-satunya yang berhak disembah.

Kami berdiskusi cukup lama. Tidak ada debat panas, hanya tukar pikiran yang jujur dan mendalam. Aku merasa seperti sedang ngobrol dengan seorang filsuf muda. Ia tidak takut salah, dan aku pun tidak merasa lebih pintar. Inilah suasana belajar yang sesungguhnya: tumbuh bersama dalam pencarian makna.

Kedekatan yang Menghidupkan

Pengalaman singkat itu menyadarkanku satu hal: pentingnya kedekatan antara santri dan guru atau ustadz. Jika relasi hanya sebatas “yang menyuruh” dan “yang disuruh”, diskusi seperti ini mungkin tidak akan pernah terjadi. Tapi ketika hubungan dibangun atas dasar kepercayaan dan saling menghormati, maka ilmu pun mengalir bukan hanya dari atas ke bawah, tapi juga sebaliknya.

Di An Nur Ungaran, kedekatan ini bukan hal langka. Para santri merasa nyaman untuk bertanya, bahkan terhadap hal-hal yang dianggap “sensitif” atau “berat”. Mereka tahu bahwa ustadz dan ustazahnya bukan hakim yang akan mengadili, tapi sahabat ilmu yang siap berjalan bersama mereka.

Santri An Nur: Kritis dan Terbuka

Yang membuatku bangga adalah cara berpikir para santri An Nur. Mereka tidak puas hanya dengan jawaban instan. Mereka ingin memahami. Mereka ingin mengkaji. Bahkan untuk satu kalimat seperti la ilaha illallah, mereka bisa menelisik maknanya dari sisi bahasa, logika, hingga nilai spiritual.

Dan yang lebih hebat lagi, mereka diberi ruang untuk berpikir. Lingkungan belajar di An Nur membuka pintu diskusi. Tidak ada pertanyaan yang dianggap terlalu remeh atau terlalu berat. Semua layak untuk dibahas, selama niatnya adalah mencari kebenaran.

Jadi, buatmu yang masih berpikir bahwa santri hanya bisa menghafal, coba datang dan duduk bersama mereka. Mungkin kamu akan pulang dengan banyak pertanyaan baru… dan mungkin juga dengan sudut pandang yang lebih luas.

Kalimat la ilaha illallah memang sederhana dalam ucapan, tapi luas dalam makna. Dan lewat diskusi itu, aku semakin yakin: di balik seragam putih biru para santri An Nur, tersimpan pemikiran-pemikiran yang tajam dan hati yang mencari cahaya.

Semoga semakin banyak ruang seperti ini: di mana ilmu bukan untuk disimpan, tapi untuk dibagikan, dipertanyakan, dan dicerna bersama.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

error: Content is protected !!