membaca Itu bukan hanya sekadar kegiatan mengolah kata-kata tertulis, melainkan sebuah petualangan pikiran yang membuka jendela dunia. Dalam keberagaman tulisan, kita menemukan informasi, memperluas wawasan, dan mengeksplorasi pemikiran penulis.
Bagi umat Islam, membaca bukan sekadar hobi, melainkan senjata spiritual yang diberikan oleh Allah, seperti yang tertuang dalam wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam QS Al-Alaq:1, kita diajak untuk membaca dengan menyebut nama Tuhan pencipta.
Namun, ironisnya, semakin sedikit remaja Muslim yang menyalurkan potensi membaca ini. Kita melihat bagaimana budaya membaca, yang seharusnya menjadi warisan berharga, perlahan direbut oleh budaya Barat. Remaja Muslim terjebak dalam minimnya minat membaca, terutama terhadap buku-buku klasik dan kontemporer. Bagi mereka, membaca terasa sebagai beban yang sulit diemban, tanpa menyadari kekayaan ilmu dan hikmah yang tersimpan di baliknya.
Padahal, membaca memiliki kekuatan luar biasa dalam membentuk kepribadian dan keintelektualan remaja. Dengan membaca, mereka dapat mengembangkan pemikiran kritis dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Namun, manfaat tersebut hanya terasa jika membaca dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika remaja mulai menganggap membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, bukanlah hal yang mengherankan jika di masa depan mereka mampu menunjukkan kreativitasnya kepada dunia.
Penulis mengajak remaja Muslim untuk tidak melupakan warisan membaca dalam perjuangan agama Islam. Membaca bukan hanya sekadar menggali pengetahuan, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa kita lebih dekat kepada pemahaman agama dan dunia. Maka, marilah kita terus menjelajahi dunia ini melalui budaya membaca.




















