Jakarta – Presiden Joko Widodo menyetujui gelar pahlawan nasional kepada KH Abdul Chalim seorang tokoh NU yang mendapat gelar Muharrikul Afkar. Gelar ini diberikan pada saat peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2023. Lalu, siapa KH Abdul Chalim? Mengapa ia diberikan gelar pahlawan nasional?
Profil KH Abdul Chalim
Dilansir situs NU Online, KH Abdul Chalim lahir di Kecamatan Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, tahun 1898. Ia adalah putra dari pasangan Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Suntamah. Kiai Chalim kecil terkenal pintar dan menguasai bahasa Arab dan belanda, karena selain belajar dipesantren belaiu juga belajar di Hollandsch inlandsche school (sekolah umum yang diikuti oleh kalangan tertentu pada masa penjajahan Belanda) selama dua tahun. Selanjutnya, Kiai Chalim melanjutkan pendidikan di Pesantren Barada Mirat Leuwimunding, Pesantren Trajaya, Pesantren Kedungwuni Kadipaten Majalengka, hingga Pesantren Masantren Cirebon.
Pada 1914, ketika usianya baru menginjak enam belas tahun, KH Abdul Chalim menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu ke tanah Hijaz selama dua tahun. Di sana ia sempat menimba ilmu dari ulama-ulama masyhur, seperti Abu Abdul Mu’thi, Syaikh Ahmad Dayyat, dan Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani yang lebih sohor dengan sebutan Imam Nawawi Banten.
Saat belajar di Hijaz, KH Abdul Chalim bertemu dengan berbagai ulama Nusantara dari berbagai daerah. Beberapa ulama ini kemudian menjadi teman sekaligus gurunya, salah satunya adalah KH Abdul Wahab Hasbullah atau yang lebih dikenal dengan Kiai Wahab Jombang.
Kiprah KH Abdul Chalim di NU
Dalam sejarah NU saat berdirinya Komite Hijaz, KH AbdulChalim menjadi komunikator kunci antara para alim ulama seluruh Jawa. KH Abdul Chalim juga membuat surat undangan serta mengantarkannya ke seluruh Kiai di Jawa untuk menghadiri rapat Komite Hijaz.
Dalam kepengurusan pertama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Chalim menjabat sebagai Wakil Katib. Berbagai momen penting NU selalu dihadiri oleh KH Abdul Chalim, selain aktif dalam organisasi paramiliter bernama Hizbullah, beliau juga turut gerilya dalam perang 10 November 1945 di Surabaya yang diawali oleh Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’Ari.
Semasa hidupnya KH Abdul Chalim selalu mengabarkan perkembangan dan situasi terbaru dalam perlawanan terhadap penjajah kepada masyarakat Majalengka, melalui koran Soeara Nahdatoel Oelama. Kemudian, pada tahun 1958 KH Abdul Chalim menjadi pelopor pembentukan Pergunu, badan otonom NU yang menghimpun dan menaungi para guru, dosen, dan ustadz. KH Abdul Chalim wafat pada 11 April 1972.

















